Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Persatuan Menuju Perlawanan Terhadap Ketidakadilan
Oleh:
Ilham Mandala Anugrah, S.I.Kom., M.Kesos.
Kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2026–2028
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk mengenang lahirnya kesadaran kolektif bahwa perbedaan suku, agama, bahasa, dan daerah bukanlah alasan untuk terpecah belah. Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan tonggak penting perjuangan bangsa, ketika para pemuda menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan hari ini adalah: apakah semangat Sumpah Pemuda masih benar-benar hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, atau justru berhenti sebagai seremoni tahunan?
Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai sebagai peristiwa bersejarah yang diperingati dengan upacara, pidato, dan pengibaran bendera. Sumpah Pemuda merupakan keberanian untuk melawan ketidakadilan, menolak segala bentuk diskriminasi, serta memperjuangkan masa depan bangsa yang lebih demokratis. Semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu seharusnya menjadi energi bagi generasi muda untuk mengawasi kekuasaan, menyuarakan kepentingan rakyat, dan memastikan bahwa kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh segelintir kelompok.
- Persatuan di Tengah Perbedaan dan Polarisasi
Salah satu pesan utama Sumpah Pemuda adalah bahwa persatuan tidak mengharuskan setiap orang memiliki pandangan yang sama. Para pemuda pada 1928 justru menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika disatukan oleh cita-cita bersama. Oleh karena itu, persatuan Indonesia semestinya tidak dipersempit menjadi tuntutan untuk selalu patuh, diam, atau menyetujui setiap keputusan pemerintah. Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan untuk menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan. Kritik terhadap kebijakan publik bukanlah bentuk kebencian terhadap negara, sebagaimana demonstrasi yang dilakukan secara damai bukanlah tindakan yang dengan sendirinya bertentangan dengan persatuan.
Sebaliknya, keberanian menyampaikan kritik merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara dalam merawat demokrasi. Tantangan generasi muda saat ini adalah menghadapi polarisasi, penyebaran disinformasi, dan kecenderungan menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Dalam situasi tersebut, semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui sikap kritis, keterbukaan terhadap perbedaan, dan keberanian melawan narasi yang memecah belah masyarakat. Persatuan sejati bukanlah keseragaman yang dipaksakan, melainkan kesediaan untuk tetap berdiri bersama tanpa menghilangkan hak setiap orang untuk bersuara.
Baca: Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Persatuan Menuju Perlawanan Terhadap Ketidakadilan
- Pemuda dan Tanggung Jawab Mengawal Kekuasaan
Sejarah menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam perubahan sosial dan politik Indonesia. Perjuangan menuju kemerdekaan, gerakan mahasiswa 1998, serta berbagai gerakan masyarakat sipil memperlihatkan bahwa keberanian generasi muda dapat menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan. Namun, sejarah tersebut tidak boleh membuat pemuda berpuas diri dengan romantisme masa lalu. Tantangan hari ini menuntut pemuda untuk mengembangkan keberanian yang disertai pengetahuan, integritas, dan tanggung jawab. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika ketidakadilan terjadi, akses pendidikan belum merata, kesempatan kerja menjadi persoalan, atau kepentingan masyarakat tersisih oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Sikap apatis terhadap persoalan publik justru dapat menjauhkan generasi muda dari cita-cita perjuangan yang diwariskan oleh para pendahulunya. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, pemuda memiliki tanggung jawab untuk mengawasi penyelenggaraan pemerintahan, mengkritisi kebijakan yang merugikan rakyat, serta memperjuangkan transparansi dan akuntabilitas kekuasaan. Perjuangan tersebut tidak harus selalu diwujudkan melalui demonstrasi, tetapi juga melalui pendidikan politik, advokasi masyarakat, penelitian, diskusi publik, dan keterlibatan dalam proses demokrasi.
Yang terpenting, keberanian bersuara harus berangkat dari kepedulian terhadap kepentingan bersama, bukan semata-mata kepentingan kelompok atau ambisi pribadi. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan bangsa tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada para pemegang kekuasaan. Masa depan tersebut juga ditentukan oleh keberanian masyarakat untuk mengawasi, mengoreksi, dan memastikan bahwa kekuasaan dijalankan demi kepentingan rakyat.
- Menghidupkan Kembali Makna Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda akan kehilangan maknanya apabila hanya diingat setiap Oktober, tetapi dilupakan dalam tindakan sehari-hari. Menghidupkan kembali semangatnya berarti menjadikan persatuan sebagai dasar perjuangan melawan ketidakadilan, menjadikan perbedaan sebagai ruang dialog, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Generasi muda juga perlu menyadari bahwa perjuangan tidak selalu menghasilkan perubahan secara cepat. Konsistensi dalam menyuarakan kebenaran, membangun solidaritas, dan membela kelompok yang terpinggirkan merupakan bagian dari perjuangan kebangsaan.
Baca: Dua Jasad Kembali Ditemukan di Pesisir Seruyan, Total 9 Jenazah
Di tengah perubahan zaman, teknologi dan media sosial seharusnya digunakan untuk memperluas pengetahuan serta memperkuat gerakan sosial, bukan sekadar menjadi ruang penyebaran kebencian dan pertengkaran. Pemuda harus berani membangun budaya politik yang sehat, menolak politik uang, tidak mudah dimanipulasi oleh propaganda, serta menilai pemimpin berdasarkan integritas dan keberpihakannya kepada rakyat. Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti sebagai simbol nasionalisme, tetapi hadir sebagai prinsip yang menuntun tindakan nyata.
- Sumpah yang Harus Terus Diperjuangkan
Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar yang diwariskan oleh generasi terdahulu, melainkan tanggung jawab yang harus diteruskan oleh setiap generasi. Persatuan Indonesia tidak akan bertahan hanya dengan slogan, tetapi membutuhkan keadilan, kepercayaan, dan kesediaan untuk memperjuangkan hak seluruh warga negara.
Hari ini, pemuda tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme dalam bentuk yang sama seperti pada 1928. Akan tetapi, tantangan berupa ketimpangan, penyalahgunaan kekuasaan, diskriminasi, dan melemahnya kepedulian sosial tetap menuntut keberanian untuk bertindak.
Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk mempertanyakan sejauh mana kita telah berkontribusi bagi bangsa, bukan sekadar mengulang kalimat-kalimat bersejarah. Sebagai aktivis dan bagian dari generasi muda, kita harus memahami bahwa mencintai Indonesia tidak berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Justru karena mencintai Indonesia, kita harus berani mengkritik ketika keadilan diabaikan, bersuara ketika hak rakyat dilanggar, dan bergerak ketika persatuan terancam oleh kepentingan yang memecah belah. Sebab, Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang bagaimana kita menyatukan bangsa, tetapi juga tentang keberanian untuk memastikan bahwa bangsa yang bersatu itu benar-benar adil bagi seluruh rakyatnya.
